Kamis, 01 Januari 2015

Khusyu' dan Gerak Iman


Buletin Da'wah AT-TAQWA
Majlis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah PondokGede 

Khusyu' dan Gerak Iman 
Mohammad Damami


Salah satu tanda keberuntungan Orang beirman adalah jika dalam shalatnya dapat dilaksanakan dengan khsuyu'. Lalu banyak orang yang bertanya, apa dan bagaimana yang disebut khusyu' dalam sholat? Jawabannya memang bisa beragam. Salah satunya seperti yang dituliskan dibawah ini.
         Dari segi bahasa, kata "khusyu" berarti "tunduk" atau "merendah diri ". Artinya, perlakuan tunduk dan merendahkan diri tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa dirinya memang dalam posisi lebih lemah danlebih banyak kekurangan, sedangkan yang kuat dan jauh lebih sempurna. Dalam Al-Qur'an kata "Khusyu" ini selalu dikaitkan dengan masalah ketuhanan. Karena itu arti dari "khusyuk" adalah tunduk dan merendah diri secara penuh kesadarn. Sebab yang dihadapi adalah Allah yang maha sempurna. 
        Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat "khusyu" dalam sholatnya? Ada beberapa syarat yang bersifat teknis yang perlu dilakukan kalau seseorang ingin mencapai derajat khusyu dalam sholat.
       Pertama, Sadar peka waktu.
       Artinya, sholat segera dikerjakan kalau memang waktu telah masuk dan disunahkan awal waktu. Dalam sebuah Hadist dituliskan sebagai berikut :
" Dari Abdulloh bin mas'ud ra (diceritakan bahwa )dia berkata : "Aku bertanya kepada rosulullah saw : " Amal apa yang paling disukai Allah ?" Rosulullah saw menjawab : " Sholat pada waktunya ". Aku bertanya lagi : Kemudian apa lagi ? Rosulullah saw  menjawab : Berjuang di jalan Allah ", (HR Bukhori dan Muslim ).
       Secara psikologis dapat ditebak, bahwa siapa saja peka waktu terhadap pekerjaan yang dihadapi, maka berarti  menampakkan kesungguhan-sungguhannya dan menunjukanpenghargaan terhadap apa yang akan dikerjakannya itu. karena itu, rumah dekat masjid/ musholla/langgar, kalender waktu sholat atau alarm HP waktu sholat, dan membawa arloji sungguh diutamakan bagi seorang mukmin.
Kedua Berjamaah 
      Kata orang-orang bijak, bahwa beras menjadi putih karena antara butur-butir beras tersebut saling bergesekan satu dengan lain secara intebsif ketika di tumbuk atau ketika di masukkan ke dalam mesin slep beras. Kondisi berjamaah demikian juga. dalam berjamaah diatur shaf/baris dan kerekatannya. setiap imam sholat sebelum takbir mulai sholat selalu mengatakan " Shawwuu shufuufakum fa inna tashfiyata'sh-
hufuufi min tamaami' sh-shalaah" Luruskan shaf-mu karena sesungguhnya lurusnya shaf-shaf itu dari tanda kesempurnaan sholat."
       Dengan berjamaah, satu orang mukmin dengan mukmin lainnya bisa saling belajar dan meniru tentang kefasihan bacaan, ketenangan sholat, ketertiban sholat, kerapihan pakaian sholat, disiplin waktu sholat, dan sebagainnya. Dengan demikian, setiap orang mukmi akan dapat menutup kekurangannya dalam melaksanakan sholat. itulah antara lain sebabnya pahala sholat berjamaah berlebih 27 (dua puluh tujuh ) derajat.
 ketiga, Thuma'ninah 
       Artinya, sholat dilakukan dengan penuh ketenangan, tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru. Cukup waktu. Khusnya, ketika ruku', sujud dan duduk di antara dua sujud. Seperti diketahui, muatan shalat pada hakikatnya adalah doa yang memerlukan penghayatan!.
  Keempat, Paham 
         Bacaan dalam sholat bagaimana terbesar adalah pujian dan doa. Semuanya dalam bahasa arab. Karena itu, agar orang yang melakukan sholat memahami apa isi dari pujian dan doa tersebut. Dengan memahami muatan bacaan, Maka makin mantaplah sholat seseorang. Sebab, bacaan dalam sholat bukanlah pengucapan yang bersifat mekanis tanpa pesan, makna, dan tujuan yang jelas. Melainkan sebuah pengungkapan batin yang bersifat fungsional dan dihayati secara mendalam. Karena itu, apa saja yang dibaca seharusnya sudah dipahami isinnya. Keharusan membaca teks yang berbahasa arab dalam sholat tidak seharusnya menipiskan isi/arti bacaannya.
Kelima Hadir Hati.
       Artinya, hat perlu dikonsentrasikan penuh dalam menghayati gerakan dan bacaan sholat seluruhnya. Bahwa ada ikatan yang saling menali (tali-temali). Isi bacaan sangat mungkin dapat lebih ditangkap dengan pemahaman simbolik terhadap gerak sholat bacaan ruku', misalnya, dapat lebih dipahami dan dihayati kalau orang makin mendalami makna simblik dari gerak ruku' yang dilakukannya. Di situlah hati akan hadir dan hati tidak akan terganggu oleh faktor-faktor lainya.
        Jadi, khusyu' itu merupakan kondisi atau derajat bati yang disuasanai rasa tunduk dan merendah diri dihadapan Allah SWT. Untuk meraihnya dapat di pakai cara-cara yang bersifat teknis yang 5_lima) macamnya di atas. Insya Allah, kalau kelima macam cara tersebut sungguh-sungguh dijalankan sebagaimana mestinya, rasa khusyu' akan sangat mungkin diraih.
        Untuk meraih kekhusyuan yang di harapkan, juga diperlukan gerak iman guna menyambut fenomena " perubahan", antara lain bersikap pasif dalam menghadapinya dengan resiko akan ada kemungkinan digulung oleh "perubahan" itu sendiri, atau bersikap proaktif dalam menghadapinya dengan kemungkina mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.
       Pada hakikatnya, terjadi seluruh perubahan di kalangan mahkluk, manusia terutama, adalah disebabkan adanya "gerak" didalamnya.
       Apakah yang disebut "gerak" yang begitu menentykan dalam seluruh proses perubahan tersebut? 
 Ada sekurang-kurang 3 (tiga) dimensi yang dipahami dan disadari oleh manusia, yaitu : ruang (space), wakeu(time), dan kekuatan (energi).
Jika dimensi ruang, waktu, dan kekuatan ini saling berkait dan bekerja, maka timbullah apa yang disebut "gerak" itu. Dimensi ruang  dapat diukur lewat satuan-saruan ukuran (panjang, lebar. tinggi, basara/bolume,luas) misalnya milimeter (mm) cebtimeter (cm), meter (m)hektare(ha), kilometer persegi (km), dan sebagainya. Sementara itu Dimensi waktu  diukur lewat "pengertian waktu" (dahulu, sekarang, yang akan datang ) atau lewat satuan-satuan ukuran seperti ampere (A), watt (W), ohm (Ω) kecepatan cahaya (c), medan elektrik(E) dan sebagainya.
        Sementara itu, dalam pengertian sederhana sehari-hari, disebutla istilah-istilah "oerubahan ruang/tempat", "perubahan waktu", "perubahan tenaga", "perubahan kondisi", "perubahan suasana" dan sebagainya.
     Untuk menghasilkan "gerak" seperti disebutkan diatas, maka faktor dimensi kekuatan (energy) mestilaj harus dikedapkan dan difungsionalisasikan secara nyata. Teknik praktis untuk memfungsionalisasikan demensi kekuatan (energy) tersebut secara urut dan berjenjang meliputu : iradat/kehendak, niat, rencana/planning, progran, dan aksi.
Pertama, iradat/kehendak
     Asal iradat/kehendak ini adalah keinginan. kehendak itu pada hakikatnya adalah hasil perasan dari berbagai keinginan yang berkembang jumlah iradat/kehendak ini sudah relatif lebih terbatas dibandingkan jumlah keinginan yang muncul tidak habis-habisnya.
        Kedua, Niat. Niat pada hakikatnya adalah kehendak yang telah memuncak Jumlahnya lebih sedikit lagi.
Ketiga, Rencana/planing. Rencana adalah penetapan berbagai niat yang mulai dinyatakan dalam tampilan, misalnya diucapkan atau dituliskan.
      Keempat, Program. Program adalah rencana yang telah ditapis/dipilih dan disusun secara sistematis serta telah di tetapkan tahapan-tahapan pelaksanaannya berikut segala kemungkinan yang terjadi.
       Kelima, Aksi. Aksi adalah pelaksanaan program sesuai dengan kisi-kisi yang termuat dalam program.
Kelima hal inilah yang perlu diurutkan pelaksanaannya jika seseorang ingin menghasilkan "gerak" apa pun juga.
       Seringkali dalam kehidupan sehari-hari terdengar keluhan, bahwa dirinya telah gagal meraih sesuatu. Namun, setelah ditelusuri, ternyata orang yang yang bersangkutan baru melaksanakan beberapa komponen diatas. Misalnya, ada yang hanya sekedar memiliki iradat/kehendak dan niat, tetapi ia gagal atau tidak bersemangat menyusul rencana/planning atau juga ada orang punya iradat/ kehendak, namun langsung dia lakukan aksi. Dia tidak mempedulikan komponen niat, Rencana/planning, apa lagi program yang jelas.
"Allah tidak menghukum kamu disesabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumoah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."
(QS. Al-Baqarah[2] : 225)
        Yang dimaksud dengan "disengaja oleh hatimu " pada ayat tersebut adalah niat. Karena itu, bagi orang beriman masalah niat menjadi hal yang begitu penting. Dalam niat benih untuk "gerak" sudah mulai berjalan. Bak sebuah kerja mesin, maka roda-rodannya sudah mulai berputar antara satu dengan yang lain. Tinggal meneruskan rencana/planning, program, dan akhirnya aksi. Karena itulah benarlah sabda Nabi s.a.w yang mengatakan :
Innama-'l-a'maalu bi-n-niyyati wa innamaa li-mri-in maa na waa.
"Bahwasannya segala amal (perbuatan) itu tergantung niatnya dan bahwasannya bagi sesorang niatnya tergantung pa yang telah diniatkannya."
(HR.Bukhori dan Muslim ).

Diterbitkan Oleh : MAJLIS TABLIGH PIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH PONDOKGEDE
dewan pembina :Ust. Ir.H. Salim A.Dimyati Msc, Ust H. Budiarjo, Lc, Ust. KH.M Ilyas Amir, Lc, Ust. Drs Sayonara Siregar.
Pemimmpin Umum : Duddy sunardi -081280710200 Dewan Redaksi : Suripto, Deddy AD, Juhadi SM, Bubun Tahuddin.
Alamat Tata Usaha :Gedung Pendidikan dan Dakwah MUHAMMADIYAH Pondok Gede Jalan setia II/29a Jaticempaka PondokGede -Bekasi
20% ongkos kirim via pos sesuai tarif berlaku .
REDAKSI MENERIMA NASKAH YANG BERLAKU SESUAI DENGAN VISI MISI BULETIN -EMAIL :attaqwa1435@gmai.com